Kasih Sayang Kalian Bagaikan Air Yang Terus Mengalir
oleh: Rizki Nurul Fatimah
Krriiiiing. Krriiing suara alarm berbunyi, kulihat jarum jam hampir menunjukkan pukul 06.00 pagi. Aku langsung bergegas ke kamar mandi. Ketika kuberjalan menuju kamar mandi, aku melihat kamar ibuku yang sunyi senyap. Tiba-tiba terlintas rasa sedih di benakku.
Seminggu yang lalu, ibu berkata padaku “Nak nanti selama ibu dan bapak pergi menunaikan haji, jaga adikmu ya, jangan bertengkar terus,” begitulah pesan dari ibu padaku. Namun aku hanya menganggap itu angin lalu saja. Ibu dan bapak juga selalu menasihatiku agar rajin di rumah dan jangan merepoti nenek selama mereka tidak ada di rumah. Akan tetapi semua perkataan ibu dan bapak tidak pernah kuhiraukan dan sekarang aku ingin sekali menangis karena kesalahanku itu.
Selama mereka pergi, aku merasa kerepotan dalam segala hal. Inikah rasanya jika tidak ada orangtua, hal itulah yang selalu keluar dari ucapanku. Namun apalah arti keluhanku sekarang. Saat ibu ada aku selalu marah-marah dengannya, tidak pernah nurut bahkan membantah. Sungguh durhakanya aku. Kini aku telah menerima balasan atas perbuatanku.
Aku selalu menangis di kamar sehabis pulang sekolah. Hal inilah yang sering kulakukan karena rasa kangen kepada mereka, selalu hadir dipikiranku. Aku pun teringat ketika aku ada masalah aku selalu meminta pertolongan pada ibu dan bapakku, namun saat orangtua ku meminta bantuan pasti ada saja alasan untuk menolaknya.
Semua perbuatanku ini membuat aku jatuh terperangkap dalam kesalahanku sendiri, yah selama bertahun-tahun dari aku kecil sampai aku besar, aku tidak pernah menyadari kesalahan besar yang telah kulakukan ini. Saat ibu dan bapak hanya pergi sementara untuk menunaikan ibadah, aku merasa telah kehilangan mereka. Bagaiman jika kelak mereka sudah tiada lagi di dunia ini. Pergi dengan membawa kesalahan yang telah ku buat, entah apa jadinya aku kelak. Mungkin aku akan menjadi manusia durhaka, gila, bahkan aku telah disiapkan Tuhan sebagai manusia penghuni neraka.
Setelah dua minggu, tidak mendapatkan kabar dari bapak dan ibu di mekkah, tiba-tiba telepon rumah berdering. Kuangkat telepon itu dan ternyata, betapa senangnya aku, ibu dengan suara agak parau menelpon dan menanyakan keadaan keluarga di rumah. Aku bercerita panjang lebar kepada ibu tentang keadaan rumah, dan sekolah ku. Aku meneteskan air mata dan meminta maaf kepada ibu dan ayah, karena selalu melawan mereka. Ibu dan ayah yang berada di mekkah bilang kepada ku, jika mereka tidak pernah membenci anak-anaknya dan mereka selalu sayang dan mendoakan kami agar kami selamat dunia dan akhirat. Rasanya aku memang anak yang paling beruntung karena memiliki orang tua seperti kalian, terima kasih ayah, ibu.
No comments:
Post a Comment